Kamis, 20 Oktober 2011

Rahasia Perut Bumi


Oleh Yuni Ikawati

Bumi selalu dianggap berbentuk bulat dan mempunyai gravitasi yang sama di seluruh permukaannya. Kenyataannya tidak begitu. Karena massa di perut bumi memiliki kerapatan yang heterogen, maka terjadilah penyimpangan gaya gravitasi. Anomali itulah yang justru dicari para memburu minyak bumi dan para penambang.

Untuk menggambarkan bentuk bumi, ada beberapa model yang dipakai, di antaranya dipilih bentuk ellipsoida dan digunakan asumsi bahwa densitas (kerapatan) bumi homogen. Padahal, kenyataannya, kerapatan massa bumi itu heterogen yang juga diliputi air, batuan leleh, minyak, dan gas. Di permukaan bumi ada gunung-gunung yang memendam magma, sebagiannya ditutupi lautan, dan di bawahnya bersembunyi cekungan minyak. Daerah-daerah tersebut gaya beratnya lebih rendah dibandingkan dengan permukaan atau lapisan bumi yang padat dan rapat.

Dengan ditemukannya kondisi itu, bentuk ellipsoid bumi yang ideal tadi memiliki jarak dengan bentuk geoid, yaitu model bumi yang mendekati bentuk bumi sesungguhnya. Secara praktis geoid dianggap berimpit dengan permukaan laut rata-rata pada saat keadaannya tenang dan tanpa gangguan cuaca.

Jarak geoid terhadap ellipsoid itu—yang disebut undulasi geoid—jelas tidak sama di semua tempat, karena ketidakseragaman sebaran densitas massa bumi itu. ”Beda tinggi antara ellipsoid dan tinggi geoid sangatlah bervariasi dan besarnya bisa mencapai puluhan meter,” urai Joenil Kahar, pakar Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pengukuran ”geoid”

Peta geoid dibuat berdasarkan pengukuran gaya berat bumi di setiap tempat menggunakan alat ukur yang disebut dengan gravimeter. Pengukuran itu dilakukan dengan mengacu pada jejaring berupa garis-garis sejajar dengan kerapatan tertentu, yang direncanakan di atas peta.

”Bagi kegiatan survei pemetaan, geoid digunakan untuk acuan tinggi rupa bumi atau topografi,” kata Jacub Rais, pakar geomatika yang juga guru besar emeritus di ITB.

Untuk keperluan aplikasi geodesi, geofisika, dan oseanografi dibutuhkan juga geoid dengan ketelitian yang tinggi. Hal ini dapat dilakukan dengan memadukan sistem global positioning system (GPS) yang dapat mengukur ketinggian permukaan bumi di mana pun dan kapan pun, serta tidak tergantung cuaca di seluruh permukaan bumi.

Dalam bidang geodesi, informasi geoid yang teliti ini dipadukan dengan sistem GPS dalam penentuan tinggi ortometrik digunakan untuk berbagai keperluan praktis, seperti pembangunan infrastruktur bangunan, bendungan, dan saluran irigasi.

Teknik pengukuran aerial gravitasi adalah menempatkan alat gravimeter di pesawat terbang yang mengudara dengan kecepatan, tinggi, dan arah tertentu, banyak digunakan setelah era GPS, karena memberi akurasi posisi yang sangat teliti.

Adapun teknik pengukuran dari antariksa dengan menempatkan sensor gravitasi pada satelit, baru diterapkan pada era milenium ini dengan diluncurkannya satelit gravitasi, seperti Champ, Grace, dan Goce.

Data gravitasi ini diaplikasikan antara lain untuk pencarian sumber daya alam, seperti mineral, hidrokarbon, gas, geotermal, dan hidrologi. Selain itu, juga untuk mengetahui deliniasi struktur bumi yang berhubungan dengan bencana alam, seperti patahan, tanah longsor, dan gunung api.

Informasi geoid yang dibuat dari data gaya berat diperlukan untuk penerapan sistem tinggi dengan teknik satelit, seperti GPS, Galileo, dan Glossnas, serta unifikasi sistem tinggi untuk pemetaan serta menunjang penelitian kenaikan paras muka laut dan sirkulasi arus laut.

Di Indonesia

Pengukuran gaya berat di Indonesia, ujar Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, Rudolf W Matindas, telah lama dilakukan oleh perusahaan minyak di Jawa dan Sumatera. Namun, cakupannya tergolong sempit. Data itu selama ini dirahasiakan perusahaan itu karena dapat mengungkap kondisi lapisan permukaan bumi yang memiliki cekungan minyak. Sementara itu, di luar Pulau Jawa dan Sumatera boleh dibilang hingga kini minim data gaya berat, bahkan Papua masih tergolong blank area.

Penyediaan data gaya berat secara nasional untuk keperluan pembangunan di daerah dilakukan Bakosurtanal dengan menggandeng Denmark Technical University.

Untuk mempercepat survei gravitasi ini dipilih wahana pesawat terbang, yang menurut Koordinator Survey Airborne Gravity Indonesia (SAGI) 2008, Fientje Kasenda, memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan survei di darat atau teresterial dan satelit. Dengan pesawat terbang jangkauan lebih luas dan cepat untuk medan yang berat, seperti hutan, pegunungan, dan perairan dangkal hingga pesisir. Selain itu juga memberikan kesinambungan data antara laut dan darat. Resolusi data lebih baik dibandingkan dengan satelit. Biaya yang dikeluarkan pun relatif lebih murah.

Dalam program Bakosurtanal, tutur Matindas, SAGI tahap pertama dilakukan di seluruh Sulawesi, sebagai daerah yang memiliki topografi yang kompleks. Diharapkan survei gaya berat dan pembuatan peta seluruh Indonesia dapat diselesaikan pada tahun 2012.

Hilangnya Predator Besar Menyebabkan Gangguan Pada Ekosistem

Penurunan predator besar dan "konsumen puncak" yang lain di bagian atas rantai makanan telah mengganggu ekosistem seluruh planet ini, menurut review temuan terbaru yang dilakukan oleh sebuah tim ilmuwan internasional dan diterbitkan dalam edisi 15 Juli Science. Studi ini melihat penelitian tentang berbagai darat, air tawar, dan ekosistem laut dan menyimpulkan bahwa "hilangnya konsumen apeks bisa dibilang manusia yang pengaruh paling luas di alam."

Menurut penulis pertama James Estes, seorang profesor ekologi dan biologi evolusi di University of California, Santa Cruz, hewan besar sekali di mana-mana di seluruh dunia, dan mereka membentuk struktur dan dinamika ekosistem. Penurunan mereka, sebagian besar disebabkan oleh manusia melalui berburu dan fragmentasi habitat, memiliki konsekuensi jauh dan sering mengejutkan, termasuk perubahan dalam vegetasi, kebakaran hutan frekuensi, penyakit menular, spesies invasif, kualitas air, dan siklus nutrisi.

Penurunan konsumen puncak telah paling menonjol di antara para predator besar, seperti serigala dan singa di darat, ikan paus dan hiu di lautan, dan ikan besar di ekosistem air tawar. Tapi ada juga telah menurun dramatis dalam populasi herbivora besar, seperti gajah dan banteng. Hilangnya konsumen puncak dari suatu ekosistem memicu fenomena ekologi yang dikenal sebagai "kaskade trofik," rantai efek bergerak turun melalui tingkat bawah rantai makanan.

"Top-down efek konsumen puncak dalam suatu ekosistem yang fundamental penting, tetapi merupakan fenomena rumit," kata Estes. "Mereka memiliki efek beragam dan kuat pada karya ekosistem cara, dan hilangnya hewan-hewan besar memiliki implikasi luas."

Estes dan coauthors mengutip berbagai contoh dalam kajian mereka, termasuk yang berikut:

    Para pemusnahan serigala di Taman Nasional Yellowstone menyebabkan lebih dari-browsing aspen dan pohon-pohon gandarusa rusa, dan pemulihan serigala telah memungkinkan vegetasi untuk pulih.
    Pengurangan singa dan macan tutul di beberapa bagian Afrika telah menyebabkan wabah penduduk dan perubahan perilaku babun zaitun, meningkatkan kontak mereka dengan orang-orang dan menyebabkan tingkat yang lebih tinggi dari parasit usus pada manusia dan babun.
    Sebuah epidemi rinderpes hancur populasi rusa kutub dan ungulates lainnya di Serengeti, sehingga vegetasi berkayu lebih dan luasnya meningkat dan frekuensi kebakaran hutan sebelum rinderpes pemberantasan pada tahun 1960.
    Perubahan dramatis dalam ekosistem pesisir telah mengikuti runtuhnya dan pemulihan populasi berang-berang laut; berang-berang laut menjaga hutan rumput laut pesisir oleh populasi mengendalikan rumput laut-merumput landak laut.
    Para penipisan hiu dalam ekosistem muara menyebabkan wabah sapi berhidung sinar dan runtuhnya populasi kerang.

Meskipun ini dan contoh terkenal lainnya, sejauh mana ekosistem dibentuk oleh interaksi tersebut belum secara luas dihargai. "Ada kecenderungan untuk melihatnya sebagai aneh dan spesifik untuk spesies tertentu dan ekosistem," kata Estes.

Salah satu alasan untuk ini adalah bahwa top-down efek dari predator puncak sulit untuk mengamati dan belajar. "Interaksi ini tidak terlihat kecuali ada beberapa gangguan yang mengungkapkan mereka," kata Estes. "Dengan hewan besar, tidak mungkin untuk melakukan jenis-jenis eksperimen yang akan diperlukan untuk menunjukkan efek mereka, sehingga bukti-bukti telah diperoleh sebagai akibat dari perubahan alam dan jangka panjang catatan."

Estes telah mempelajari ekosistem pesisir di Pasifik Utara untuk beberapa dekade, melakukan pekerjaan perintis pada peran ekologis dari berang-berang laut dan paus pembunuh. Pada tahun 2008, ia dan rekan penulis John Terborgh dari Duke University menyelenggarakan sebuah konferensi pada kaskade trofik, yang membawa bersama para ilmuwan mempelajari berbagai ekosistem. Pengakuan yang mirip top-down efek telah diamati dalam sistem yang berbeda adalah katalis untuk kertas baru.

Temuan penelitian ini memiliki implikasi yang mendalam untuk konservasi. "Sejauh yang bertujuan ke arah konservasi ekosistem memulihkan fungsional, pendirian kembali dari hewan besar dan efek ekologi mereka adalah fundamental," kata Estes. "Hal ini memiliki implikasi besar untuk skala di mana konservasi dapat dilakukan Anda tidak dapat mengembalikan konsumen puncak besar pada satu hektar tanah.. Hewan ini berkeliaran di daerah yang luas, sehingga akan memerlukan pendekatan skala besar."

Rekan penulis kertas termasuk 24 ilmuwan dari berbagai institusi di enam negara. Dukungan untuk studi ini disediakan oleh Institut Ilmu Pelestarian Laut, Pembela Wildlife, White Oak Perkebunan, US National Science Foundation, NSERC Kanada, dan NordForsk.

sumber : Universitas Muhammadiyah Malang 

Selasa, 18 Oktober 2011

Cinta Abadi Dalam Rumah Tangga

Setiap orang yang telah berkeluarga, tentu menginginkan kebaikan dan kebahagiaan dalam kehidupannya bersama istri dan anak-anaknya. Hal ini sebagai perwujudan rasa cintanya kepada mereka, yang kecintaan ini merupakan fitrah yang Allah tetapkan pada jiwa setiap manusia. Allah Ta’ala berfirman,
{زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ}
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS Ali ‘Imran:14).
Bersamaan dengan itu, nikmat keberadaan istri dan anak ini sekaligus juga merupakan ujian yang bisa menjerumuskan seorang hamba dalam kebinasaan. Allah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya.
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوّاً لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ}
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (QS At Taghaabun:14).
Makna “menjadi musuh bagimu” adalah melalaikan kamu dari melakukan amal shaleh dan bisa menjerumuskanmu ke dalam perbuatan maksiat kepada Allah Ta’ala[1].
Salah Menempatkan Arti Cinta dan Kasih Sayang
Kita dapati kebanyakan orang salah menempatkan arti cinta dan kasih sayang kepada istri dan anak-anaknya, dengan menuruti semua keinginan mereka meskipun dalam hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam, yang pada gilirannya justru akan mencelakakan dan merusak kebahagiaan hidup mereka sendiri.
Sewaktu menafsirkan ayat tersebut di atas, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata: “…Karena jiwa manusia memiliki fitrah untuk cinta kepada istri dan anak-anak, maka (dalam ayat ini) Allah Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya agar (jangan sampai) kecintaan ini menjadikan mereka menuruti semua keinginan istri dan anak-anak mereka dalam hal-hal yang dilarang dalam syariat. Allah telah memotivasi hamba-hamba-Nya untuk (selalu) melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nya…”[2].
Oleh karena itulah, seorang kepala keluarga yang benar-benar menginginkan kebaikan dalam keluarganya hendaknya menyadari kedudukannya sebagai pemimpin dalam rumah tangganya, sehingga dia tidak membiarkan terjadinya penyimpangan syariat dalam keluarganya, karena semua itu akan ditanggungnya pada hari kiamat kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“ألا كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته، … والرجل راع على أهل بيته وهو مسئول عنهم”
“Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya … Seorang suami adalah pemimpin (keluarganya) dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang (perbuatan) mereka“[3].
Cinta sejati yang abadi
Seorang kepala keluarga yang benar-benar mencintai dan menyayangi istri dan anak-anaknya hendaknya menyadari bahwa cinta dan kasih sayang sejati terhadap mereka tidak diwujudkan dengan hanya mencukupi kebutuhan duniawi dan fasilitas hidup mereka. Akan tetapi yang lebih penting dari semua itu pemenuhan kebutuhan rohani mereka terhadap pengajaran dan bimbingan agama yang bersumber dari petunjuk al-Qur-an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah bukti cinta dan kasih sayang yang sebenarnya, karena diwujudkan dengan sesuatu yang bermanfaat dan kekal di dunia dan di akhirat nanti.
Karena pentingnya hal ini, Allah Ta’ala mengingatkan secara khusus kewajiban para kepala keluarga ini dalam firman-Nya,
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ}
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu”[4].
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertaubat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat (dari siksaan neraka) kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnya”[5].
Demikian juga dalam hadits yang shahih ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma memakan kurma sedekah, padahal waktu itu Hasan radhiyallahu ‘anhuma masih kecil, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hekh hekh” agar Hasan membuang kurma tersebut, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa kita (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keturunannya) tidak boleh memakan sedekah?”[6].
Imam Ibnu Hajar menyebutkan di antara kandungan hadits ini adalah bolehnya membawa anak kecil ke mesjid dan mendidik mereka dengan adab yang bermanfaat (bagi mereka), serta melarang mereka melakukan sesuatu yang membahayakan mereka sendiri, (yaitu dengan) melakukan hal-hal yang diharamkan (dalam agama), meskipun anak kecil belum dibebani kewajiban syariat, agar mereka terlatih melakukan kebaikan tersebut[7].
Kemudian, hendaknya seorang kepala keluarga menyadari bahwa dengan melaksanakan perintah Allah Ta’ala ini, berarti dia telah mengusahakan kebaikan besar dalam rumah tangga tangganya, yang dengan ini akan banyak masalah dalam keluarganya yang teratasi, baik masalah di antara dia dengan istrinya, dengan anak-anaknya ataupun di antara sesama keluarganya. Bukankah penyebab terjadinya bencana secara umum, termasuk bencana dalam rumah tangga, adalah perbuatan maksiat manusia? Allah Ta’ala berfirman,
{وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ}
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan (dosa)mu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS asy-Syuura:30).
Inilah makna ucapan salah seorang ulama salaf yang mengatakan, “Sungguh (ketika) aku bermaksiat kepada Allah, maka aku melihat (pengaruh buruk) perbuatan maksiat tersebut pada tingkah laku istriku…“[8].
Dan barangsiapa yang mengharapkan cinta dan kasih sayangnya terhadap keluarganya kekal abadi di dunia sampai di akhirat nanti, maka hendaknya dia melandasi cinta dan kasih sayangnya karena Allah semata-semata, serta mengisinya dengan saling menasehati dan tolong menolong dalam ketaatan kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
{الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ}
“Orang-orang yang berkasih sayang pada waktu itu (di akhirat) menjadi musuh satu sama lainnya, kecuali orang-orang yang bertaqwa” (QS az-Zukhruf:67).
Ayat ini menunjukkan bahwa semua jalinan cinta dan kasih sayang di dunia yang bukan karena Allah maka di akhirat nanti berubah menjadi kebencian dan permusuhan, dan yang kekal abadi hanyalah jalinan cinta dan kasih sayang karena-Nya[9].
Lebih daripada itu, dengan melaksanakan perintah Allah ini seorang hamba –dengan izin Allah Ta’ala– akan melihat pada diri istri dan anak-anaknya kebaikan yang akan menyejukkan pandangan matanya dan menyenangkan hatinya. Dan ini merupakan harapan setiap orang beriman yang menginginkan kebaikan bagi diri dan keluarganya. Oleh karena itulah Allah Ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang bertakwa ketika mereka mengucapkan permohonan ini kepada-Nya, dalam firman-Nya,
{وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً}
“Dan (mereka adalah) orang-orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqan:74).
Imam Hasan al-Bashri ketika ditanya tentang makna ayat di atas, beliau berkata, “Allah akan memperlihatkan kepada hambanya yang beriman pada diri istri, saudara dan orang-orang yang dicintainya ketaatan (mereka) kepada Allah. Demi Allah tidak ada sesuatupun yang lebih menyejukkan pandangan mata seorang muslim dari pada ketika dia melihat anak, cucu, saudara dan orang-orang yang dicintainya taat kepada Allah Ta’ala“[10].
Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan berdoa kepada Allah agar Dia senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya pada diri kita sendiri maupun keluarga kita.
Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 25 Rabi’ul akhir 1430 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Penghasilan Istri Lebih besar Dari Penghasilan Suami

Tanya: Ass.wr.wb.
saya ingin bertanya mengenai hak dan kewajiban isteri dari segi penghasilan, kami baru saja menikah, kami berdua sama2 kerja, tanpa maksud apapun, penghasilan suami saya lebih kecil dari saya.

Sejak awal pacaran saya tidak mempermasalahkan mengenai pengeluaran apabila kami keluar untuk jalan2, makan bukan hanya berdua bahkan terkadang dengan keluarganya, bahkan terkadang saat dia menginginkan suatu barang selama saya memiliki uang saya belikan untuk dia dan dia jarang berbuat yang sama terhadap saya karena saya mengerti penghasilan dia yang kurang mencukupi
Sebelumnya dia pernah bilang kalau dia tidak mau tahu penghasilan saya berapa, uangnya untuk apa tetapi tetap saling menopang. Awalnya saya tidak ada masalah karena dia sendiri yang bilang "uang saya (calon suami) uang kamu,uang kamu ya uang kamu".

Yang saya bingung, dia tetap mangatakan seperti itu tetapi dia juga mengatakan walaupun saya punya gaji sendiri tetapi kalu mau memberikan untuk orangtua saya sendiri saya harus meminta ijin dari dia sedangkan itu penghasilan saya sendiri bukan uang dia.

Yang ingin saya tanyakan apakah dalam islam, istri yang memiliki penghasilan sendiri wajib meminta ijin kepada suaminya atau tidak? Makasih

Jawab:

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sebelumnya saya ingin mengingatkan pada semua saudara dan saudariku. Jika ingin menuliskan salam, Jangan pernah hanya menuliskannya dalam tulisan “ass” saja. Artinya amat sangat tidak bagus dan juga amat sangat tidak sopan. Jika sedang punya waktu coba buka kamus bahasa inggris dan lihat apa arti ‘ass’. Yang saya temukan, “Ass” berarti: Pertama, kb. (animal) yang artinya keledai. Kedua, orang yang bodoh. Don't be a silly (Janganlah sebodoh itu). Dan ketiga, Vlug (pantat). Biasanya, didalam bahasa kasar pergaulan orang Amerika, arti kata ‘ass’ yang terakhir inilah yang sering digunakan orang (baik ditujukan untuk mengungkapkan rasa kesal pada seseorang, atau untuk menghina seseorang, atau untuk memancing keributan dengan seseorang). Sekarang, mari kita bandingkan dengan arti sesungguhnya dari ‘assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’. Deretan kata ini merupakan sebuah doa yang kita haturkan kepada saudara kita yang indah sekali. “Semoga kedamaian dilimpahkan kepadamu diiringi dengan rahmat dari Allah dan juga barakah dari Allah untukmu.” Tidak sebanding rasanya mengganti deretan kata yang indah ini dengan kata (maaf) “Pantat lu” hanya karena kita malas menulis salam secara lengkap atau karena tergesa-gesa atau karena keterbatasan ruangan untuk menulisnya. Jika memang ingin mengucapkan salam, tapi terburu-buru atau fasilitas ruangan yang tersedia sempit, tulis saja “salam” atau “hai” saja juga tidak apa-apa kok. Bahkan lebih baik tidak usah mengucapkan apa-apa (dan insya Allah saya akan tetap hargai) daripada mengucapkan kata-kata kotor sebagai sapaan. Demikian semoga menjadi perhatian.

Apa yang suamimu katakan tentang “uang saya adalah uangmu, dan uangmu ya tetap menjadi uangmu” itu dibenarkan dalam Islam. Betul sekali, kewajiban suami adalah memberi nafkah kepada istri dan anak-anaknya. Dengan demikian, uang yang dia peroleh wajib untuk digunakan sebagai kemaslahatan keluarganya. Jika dia ingin menggunakannya untuk keperluan dia sendiri, hendaknya istrinya harus mengetahuinya. Adapun istri tidak dikenakan kewajiban untuk mencari nafkah. Tugas istri adalah menjaga harta suaminya, menjaga diri dan kehormatan diri dan kehormatan keluarganya serta mengelola rumah tangga. Dengan demikian, jika dalam tugas tersebut si istri memperoleh penghasilan atau dia mendapatkan harta diluar pemberian suaminya maka istri tersebut tidak wajib untuk membaginya bersama suaminya. Dia boleh menikmati harta atau penghasilan itu sendiri saja. Hanya saja, jika dia ingin membaginya kepada suaminya maka apa yang dia berikan itu terhitung sebagai sedekah. Insya Allah ada pahalanya. Demikian juga jika istri ingin membagi hartanya kepada orang tuanya atau kepada sanak saudaranya, maka apa yang dia berikan itu juga terhitung sebagai sedekah.

Sedekah dalam Islam memiliki tempat yang istimewa. Karena dengan sedekah, kita belajar untuk ikhlas dan mengembangkan sikap untuk tidak sombong. Itu sebabnya orang yang hartanya sering disedekahkan, dia sebenarnya adalah orang yang senantiasa membersihkan harta dan jiwanya. Tentu juga ada pahalanya seperti yang sudah dijanjikan Allah SWT. Karena nilainya yang tinggi inilah maka hampir semua muslimin dan muslimat amat bergairah untuk melakukan tugas mulia ini. Mereka berlomba-lomba untuk melakukan kebajikan ini. Termasuk juga suamimu.

Ukhti, betul uang yang akan kamu berikan kepada orang tuamu itu adalah uangmu sendiri, tapi suamimu, yaitu orang yang mencintai dirimu (dan insya Allah bukan cinta uangmu) juga ingin menyenangkan hati orang tua dari kekasih yang dicintainya, yaitu orang tuamu. Dia juga ingin melakukan sedekah. Tapi, jika kamu memberi sedekah kepada orang tuamu sekian rupiah, lalu suamimu juga member sedekah kepada orang tuamu sekian rupiah, maka akan terjadi penumpukan sedekah hanya disatu orang saja. Ini tentu saja kurang baik karena Islam mengajarkan untuk senantiasa adil dan seimbang. Itu sebabnya suamimu meminta dirimu untuk memberitahu dirinya terlebih dahulu jika ukhti ingin member sedekah kepada orang tua ukhti (meski notabene itu uang ukhti sendiri). Mungkin ada baiknya jika kalian berdiskusi seberapa besar nilai sedekah yang bisa diberikan. Saran saya, jangan terlalu besar dan jangan terlalu sering. Karena ukhti dan suami baru saja mengayuh perahu rumah tangga di tepian pantai. Entah apakah riak ombak kecil yang menerpa perahu selamanya akan bisa diatasi hanya dengan tepukan dayung saja. Bagaimana jika datang ombak besar bergulung-gulung di kemudian hari? Bagaimana jika perahu kalian terbawa ke lautan yang berpalung dalam? Bagaimana jika bertemu dengan gugus batu karang yang besar dan tajam? Dengan kata lain, beri sewajarnya saja. Karena biasanya mereka yang sudah diberikan beberapa kali dengan jumlah tertentu sering kali langsung menganggap bahwa jumlah itulah yang harus diberikan untuk seterusnya. Padahal, kehidupan rumah tangga itu seperti roda pedati, kadang ada di bawah (dimana kondisi ekonomi mungkin carut marut, persoalan amat beragam bermunculan, dll) kadang ada juga di bawah (dimana kondisi ekonomi amat sejahtera, segala persoalan terasa seperti remeh temeh yang mudah diselesaikan). Jika diberikan terlalu sering dan terlalu besar, ketika suatu hari ukhti mengalami kesulitan ekonomi, ukhti akan merasakan bahwa kegiatan memberikan sedekah dengan nilai seperti biasanya itu menjadi sebuah beban. Akibatnya timbul rasa tidak ikhlas dan terpaksa. Jadi, diskusikan dengan pasangan.

Sesungguhnya, masalah uang dan harta adalah masalah yang amat sensitive dalam kehidupan rumah tangga. Jika banyak dia bisa membuat kita terlena dan sombong, jika sedikit bisa membuat kita lemah iman dan emosi. Jadi, untuk penggunaan uang selalu diskusikan dengan suamimu. Bahkan meski gaji suamimu lebih kecil daripada gajimu sendiri. Jika ukhti ingin memberikan sedekah kepada keluarga ukhti, ada beberapa hal yang juga harus jadi pertimbangan. Pertama, Jangan lupa untuk zakat 2,5 %. Kedua, menabung. Menabunglah untuk masa sulit yang entah kapan akan datang. Menabunglah untuk pendidikan putra putri dimasa yang akan datang. Menabunglah untuk masa tua nanti (termasuk menabung jika ingin naik haji dan umrah). Berapa prosentasenya, silahkan pikirkan. Tapi sementara itu, biasakan untuk tidak menaruh curiga dan syak wasangka kepada suami. Berprasangka baik selalulah kepada suamimu, insya Allah cinta di hati kalian akan senantiasa bersemi sepanjang waktu.

Demikian semoga bermanfaat. Selamat menempuh hidup baru ya ukhti.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ade Anita

Hukum Sholat trawih bagi wanita di mesjid

Soal: Apakah boleh bagi seseorang melaksanakan shalat tarawih sendirian jika dia luput dari shalat berjama’ah? Dan apakah shalat tarawih untuk wanita lebih baik di rumah ataukah di masjid?

Jawab: Disyariatkan untuk laki-laki –apabila luput dari shalat jama’ah tarawih-, maka dia menunaikannya sendirian. Adapun shalat tarawih untuk wanita lebih baik dilakukan di rumah daripada di masjid. Wa billahi taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallam.
Yang menandatangani fatwa ini: Abdullah bin Qo’ud dan Abdullah bin Ghudayan sebagai anggota, ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai Wakil Ketua, dan ‘Abdul Aziz bin Baz sebagai Ketua. [1]

Penjelasan Syaikh Musthofa Al ‘Adawiy
Jika menimbulkan godaan ketika keluar rumah (ketika melaksanakan shalat tarawih), maka shalat di rumah lebih utama  bagi wanita daripada di masjid. Hal ini berdasarkan hadits dari Ummu Humaid, istri Abu Humaid As Saa’idiy. Ummu Humaid pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata bahwa dia sangat senang sekali bila dapat shalat bersama beliau. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ … وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى
”Aku telah mengetahui bahwa engkau senang sekali jika dapat shalat bersamaku. …  Shalatmu di rumahmu lebih baik dari shalatmu di masjid kaummu. Dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku.” [2]
Namun jika wanita tersebut merasa tidak sempurna mengerjakan shalat tarawih tersebut di rumah atau malah malas-malasan, juga jika dia pergi ke masjid akan mendapat faedah lain bukan hanya shalat (seperti dapat mendengarkan nasehat-nasehat agama atau pelajaran dari orang yang berilmu atau dapat pula bertemu dengan wanita-wanita muslimah yang sholihah atau di masjid para wanita yang saling bersua bisa saling mengingatkan untuk banyak mendekatkan diri pada Allah, atau dapat menyimak Al Qur’an dari seorang qori’ yang bagus bacaannya), maka dalam kondisi seperti ini, wanita boleh saja keluar rumah menuju masjid. Hal ini diperbolehkan bagi wanita asalkan dia tetap menutup aurat dengan menggunakan hijab yang sempurna, keluar tanpa memakai harum-haruman (parfum), dan keluarnya pun dengan izin suami. Apabila wanita berkeinginan menunaikan shalat jama’ah di masjid (setelah memperhatikan syarat-syarat tadi), hendaklah suami tidak melarangnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ
“Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk ke masjid, namun shalat di rumah mereka (para wanita) tentu lebih baik.” [3]
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ إِلَى الْمَسَاجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ
“Jika istri kalian meminta izin pada kalian untuk ke masjid, maka izinkanlah mereka.” [4]. Inilah penjelasan Syaikh Musthofa Al Adawi hafizhohullah yang penulis sarikan. [5]
Menarik Pelajaran
Dari penjelasan para ulama di atas dapat kita simpulkan bahwa shalat tarawih untuk wanita lebih baik adalah di rumahnya apalagi jika dapat menimbulkan fitnah atau godaan. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih mengatakan bahwa shalat bagi wanita di rumahnya lebih baik daripada di masjidnya yaitu Masjid Nabawi. Padahal kita telah mengetahui bahwa pahala yang diperoleh akan berlipat-lipat apabila seseorang melaksanakan shalat di masjid beliau yaitu Masjid Nabawi.
Namun apabila pergi ke masjid tidak menimbulkan fitnah (godaan) dan sudah berhijab dengan sempurna, juga di masjid bisa dapat faedah lain selain shalat seperti dapat mendengar nasehat-nasehat dari orang yang berilmu, maka shalat tarawih di masjid diperbolehkan dengan memperhatikan syarat-syarat ketika keluar rumah. Di antara syarat-syarat tersebut adalah:

Pertama, menggunakan hijab dengan sempurna ketika keluar rumah sebagaimana perintah Allah agar wanita memakai jilbab dan menutupi seluruh tubuhnya selain wajah dan telapak tangan.

Kedua, minta izin kepada suami atau mahrom terlebih dahulu dan hendaklah suami atau mahrom tidak melarangnya.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ إِلَى الْمَسَاجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ
“Jika istri kalian meminta izin pada kalian untuk ke masjid, maka izinkanlah mereka.” (HR. Muslim). An Nawawi membawakan hadits ini dalam Bab “Keluarnya wanita ke masjid, jika tidak menimbulkan fitnah dan selama tidak menggunakan harum-haruman.”

Ketiga, tidak menggunakan harum-haruman dan perhiasan yang dapat menimbulkan godaan.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بَخُورًا فَلاَ تَشْهَدْ مَعَنَا الْعِشَاءَ الآخِرَةَ
“Wanita mana saja yang memakai harum-haruman, maka janganlah dia menghadiri shalat Isya’ bersama kami.” (HR. Muslim)
Zainab -istri ‘Abdullah- mengatakan bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada para wanita,
إِذَا شَهِدَتْ إِحْدَاكُنَّ الْمَسْجِدَ فَلاَ تَمَسَّ طِيبًا
“Jika salah seorang di antara kalian ingin mendatangi masjid, maka janganlah memakai harum-haruman.” (HR. Muslim)

Keempat, jangan sampai terjadi ikhtilath (campur baur yang terlarang antara pria dan wanita) ketika masuk dan keluar dari masjid.
Dalilnya adalah hadits dari Ummu Salamah:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِى تَسْلِيمَهُ ، وَيَمْكُثُ هُوَ فِى مَقَامِهِ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ . قَالَ نَرَى – وَاللَّهُ أَعْلَمُ – أَنَّ ذَلِكَ كَانَ لِكَىْ يَنْصَرِفَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الرِّجَالِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salam dan ketika itu para wanita pun berdiri. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tetap berada di tempatnya beberapa saat sebelum dia berdiri. Kami menilai –wallahu a’lam- bahwa hal ini dilakukan agar wanita terlebih dahulu meninggalkan masjid supaya tidak berpapasan dengan kaum pria.” (HR. Bukhari)
Demikian penjelasan kami mengenai shalat tarawih bagi wanita. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita sekalian.
***
Selesai disusun 8 Ramadhan 1430 H di Panggang, Gunung Kidul
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Martabat Wanita

Kafemuslimah.com

Sebenarnya puncak rendahnya martabat wanita adalah datang dari faktor dalam. Bukanlah faktor luar atau yang berbentuk material sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh para pejuang hak-hak palsu wanita.

Faktor-faktor tersebut ialah:

1) Lupa mengingat Allah
Kerana terlalu sibuk dengan tugas dan kegiatan luar atau memelihara anak-anak, maka tidak heran jika banyak wanita yang tidak menyadari bahwa dirinya telah lalai dari mengingat Allah. Dan saat kelalaian ini pada hakikatnya merupakan saat yang paling berbahaya bagi diri mereka, di mana syetan akan mengarahkan hawa nafsu agar memainkan peranannya.

Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-Jathiah, ayat 23: artinya:

" Maka sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya."

Sabda Rasulullah s.a.w.: artinya:
"Tidak sempurna iman seseorang dari kamu, sehingga dia merasa cenderung kepada apa yang telah aku sampaikan." (Riwayat Tarmizi)

Mengingati Allah s.w.t. bukan saja dengan berzikir, tetapi termasuklah menghadiri majlis-majlis ilmu.

2) Mudah tertipu dengan keindahan dunia
Keindahan dunia dan kemewahannya memang banyak menjebak wanita ke perangkapnya. Bukan itu saja, malahan syetan dengan mudah memperalatkannya untuk menarik kaum lelaki agar sama-sama bergelimang dengan dosa dan noda. Tidak sedikit yang sanggup durhaka kepada Allah s.w.t. hanya kerana kenikmatan dunia yang terlalu sedikit.

Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-An'am: artinya:
" Dan tidaklah penghidupan dunia ini melainkan permainan dan kelalaian dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, oleh karena itu tidakkah kamu berfikir."

3) Mudah terpedaya dengan syahwat
4) Lemah iman
5) Bersikap suka menunjuk-nunjuk

Ad-dunya mata' , khoirul mata' al mar'atus sholich
Dunia adalah perhiasan, perhiasan dunia yang baik adalah Wanita sholihah

Ketombe dan Jilbab

Saya wanita usia 25 th, bekerja dan memakai jilbab. Akhir-akhir ini saya sering merasakan gatal di kulit kepal, mengalami kerontokan rambut dan menemukan banyak luka di kulit kepala yang sudah mongering. Sewaktu saya garuk, banyak serpihan putih berjatuhan. Awalnya saya pikir ini ketombe, tetapi mengapa diikuti perasaan perih di kulit kepala?

Ketombe (dandruff) adalah kelainan penglupasan kulit ari pada kulit kepala. Istilah ketombe yang dikenal awam, dalam dunia medis sebenarnya adalah suatu kelompok penyakit, merupakan spektrum dari yang ringan (pitiriasis sicca), sedang (eksim kulit berminyak / dermatitis seboroik) sampai dengan berat (psoriasis). Ketombe bisa terdiri dari satu atau gabungan penyakit dalam spektrum tersebut. Gejalanya mirip, berupa sisik kulit kepala, kadang gatal dan mungkin disertai kerontokan rambut.
Banyak faktor yang mempengaruhi timbulnya ketombe, antara lain, kulit berminyak, adanya jamur (Pityrosporum), kulit sensitif (atopik), keturunan / genetik, daya tahan tubuh, nutrisi, kelainan syaraf / neurologis, dan fisik (suhu dan kelembaban).
Rasa gatal umumnya timbul bila udara panas dan berkeringat karena kelenjar minyak di kulit kepala menjadi lebih aktif pada keadaan tersebut. Luka di kulit kepala terjadi akibat garukan dan bisa timbul infeksi. Kerontokan rambut dapat terjadi akibat penyakitnya sendiri atau akibat garukan.
Dengan kondisi yang Anda derita, sebaiknya berobat ke dokter spesialis kulit dan kelamin terdekat. Disamping itu perlu diperhatikan cara pemakaian jilbab yang baik, supaya salah satu faktor pencetus yang telah disebutkan di atas yaitu faktor fisik (suhu dan kelembaban), tidak memperberat keadaan. Perlu diketahui bahwa jilbab tidak menyebabkan ketombe. Telah dibuktikan melalui penelitian dr. Detty DK di FKUI Jakarta tahun 2001, ternyata tidak ada hubungan bermakna antara pemakaian jilbab dengan ketombe.


Berikut ini tips sehat memakai jilbab:

Pilih bahan katun / sutra alam atau bahan lain yang menyerap keringat dan cukup berpori.
Lapisan dalam (dalaman) juga dari bahan katun dan jangan terlalu sering yang berbentuk topi, pakai bando atau tidak usah pakai sama sekali.
Lapisan jilbab luar jangan lebih dari 4 lapis.
Pilih warna jilbab putih atau warna muda lain kalau banyak beraktivitas di bawah sinar matahari.
Jangan menutup rambut ketika masih basah.
Rambut perlu dibuka, diurai dan dianginkan di rumah / di lingkungan mahram.
Cara memakai jilbab sebaiknya ‘dilepas’ menutupi dada, jangan terlalu sering diikat ke leher , agar sirkulasi udara lebih baik.



Dr. Dewi Inong Irana SpKK
Puan Jakarta Boutique Clinic
Dari : noor.co.id

Psikologi Suami – Istri

Penulis: Rini
Sumber: Kado Pernikahan, Psikologi Suami-Istri; Dr. Thariq Kamal An-Nu’aimi; Mitra Pustaka.
Oleh Dr. Thariq Kamal an-Nu’aimi

Semua orang pasti setuju bila dikatakan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kondisi psikologis yang berbeda. Kondisi psikologis yang secara aktif sangat berpengaruh pada cara memahami, berbuat, dan merespon sesuatu. Perbedaan tersebut membuat masing-masing menjadi jelas dan sepertinya tidak akan mungkin bisa bersandar pada dunia yang sama, cara berfikir yang sama. Inilah kodrat manusia. Agar tak salah dalam menafsirkan cara berpikir, maka adalah baiknya mengetahui bagaimana perbedaan ini? Dengan mengetahui dasar-dasar perbedaan ini, diharapkan tidak ada lagi rasa curiga.

Selain perbedaan yang mencolok secara fisik, tentu banyak perbedaan lainnya secara lahiriah. Begitu halnya dalam hal cara berfikir. Cara berfikir lelaki terkonsentrasi (terpusat) pada kebutuhannya saja dan hanya memperhatikan dirinya saja. Sebaliknya pada wanita, akan lebih mudah memperhatikan sekelilingnya melebihi perhatian pada dirinya sendiri. Ia akan menngorbankan dirinya sendiri dan tidak merasakan hal tersebut.

Perbedaan cara berpikir ini yang mendasari sikap tidak saling memahami jalan pemikiran. Lelaki tidak bisa berfikir dan menyikapi sesuatu seperti yang dilakukan perempuan. Begitu juga sebaliknya. Jika masing-masing pihak memaksakan cara berpikirnya, tentu saja fatal akibatnya. Timbullah rasa frustasi, ketegangan yang diwarnai pertengkaran, kebencian yang dapat menimbulkan keretakan dalam rumah tangga.

Lalu, apa saja perbedaan itu?

Cara Berpikir

Otak lelaki dan perempuan berbeda, begitu pula dalam penggunaannya. Para lelaki akan sulit sekali merubah fikirannya dalam waktu sekejab. Lain hal dengan wanita.

Jika seorang lelaki dalam konsentrasi penuh melakukan suatu hal, maka akan sulit baginya untuk membagi konsentrasi pada hal lainnya. Misalnya, seorang suami sedang asik membaca. Si istri datang dengan maksud ingin menciptakan suasana hangat. Namun yang terjadi pada suami adalah si istri mengganggu konsentrasinya. Hal umum terjadi adalah, suami dan istri sama-sama menjadi jengkel karena tak terpenuhi keinginannya.

Hal yang harus dilakukan istri adalah, tanyakan pada suami apakah dia ingin berbincang-bincang padanya. Jika suami mengatakan kesanggupannya tapi dia tidak melepaskan matanya dari bacaannya. Lebih baik tak usah dilanjutkan lagi perbincangan karena sudah pasti suami tidak akan dapat berkonsentrasi dengan dua macam perbuatan. Lebih baik cari lagi waktu luang lainnya. Dan hal ini tidak berarti dia tidak mencintai dan perduli pada istrinya. Hal ini hanyalah karena tabiat dasar seorang lelaki.

Interaksi dengan dunia luar bagi lelaki adalah pergulatan dengan dunia luar. Pergulatan yang membutuhkan enerji besar dan keharusan untuk memenangkannya. Ia harus selalu menjadi orang yang berada di urutan teratas. Tentu saja interaksi ini berbeda jauh pada kaum perempuan yang penuh dengan kasih sayang, dunia penuh cinta, dan hubungan sosial.

Cara berfikir terhadap dunia luarpun menjadi sangat berbeda. Dimana lelaki berfikir secara sentratif (memusat) akan mengaitkan satu hal dengan hal lainnya kemudian secara bertahap membentuk sebuah gambaran yang dapat ia mengerti. Sedangkan perempuan memiliki sifat ekspansif (meluas) dimana pada tahap awalnya ia akan mencoba menjelajah segala aspek yang terkait dengan objek kemudian mengkaitkan bagian-bagian tersebut.

Contoh sederhana adalah saat berbelanja. Bagi lelaki dimana cara berfikirnya terkonsentrasi adalah langsung membeli barang yang dibutuhkannya dan mengabaikan lainnya. Berbeda dengan perempuan yang bersifat ekspansif. Perempuan membutuhkan waktu untuk menjelajah sambil menyebarkan sifat penyayangnya. Tentu hal yang melelahkan bagi lelaki bila ia dipaksakan harus melakukan hal yang sama seperti kaum perempuan.

Perbedaan lainnya terletak pada cara berfikir dalam menyelesaikan masalah. Bagi lelaki, berfikir adalah diam namun bagi perempuan berfikir sambil berbicara agar mendapatkan kejernihan dalan berfikir. Kontradiktif. Tabiat pokok para lelaki adalah perhatian pada sesuatu yang di luar. Sehingga ketika ia mengalami kesukaran maka ia akan menarik diri dan mulai berfikir secara diam. Ia berusaha memecahkan permasalahan yang dialami. Demikianlah cara lelaki bersikap agar telepas dari kesukaran dan kelelahan.

Lelaki yang merasa lelah akan berusaha mencari kelegaan dengan berusaha mendapatkan tempat yang cukup tenang, jauh dari kebisingan. Dan secara umum berusaha menghindarkan diri untuk tenggelam pada perdebatan dalam bentuk apapun. Ia tidak ingin berbicara, baik pada permasalahan yang dihadapi maupun tema lainnya. Yang diinginkan lelaki pada waktu itu hanyalah ketenangan. Dan rumah adalah tempat mendapatkan ketenangan itu.

Di antara naluri khas lelaki adalah apabila ia konsentrasi untuk membahagiakan perempuan maka ketika itu semua pikiran dan usahanya terpusat untuk mewujudkannya. Bila ia merasa perempuan telah merasa bahagia, maka lelaki akan berusaha mengubah pikirannya pada hal baru secara tidak sengaja. Ia mulai konsentrasi pada hal lain, seperti permasalahan dalam pekerjaan. Sehingga otaknya sibuk, pemikirannya tertumpah pada hal tersebut, sehingga masalah baru itu menjadi sangat menyibukkan dia. Seakan-akan ia telah mengabaikan istrinya yang ia cintai.

Seni Berkomunikasi

Sudah umum dikatakan bahwa perempuan adalah makhluk cerewet yang banyak omong. Sebenarnya pendapat itu tidak salah dan juga tidak sepenuhnya benar. Kaum lelaki juga sangat suka berbicara. Kaum lelaki banyak berbicara saat di luar rumah, saat ia berjuang dan berkorban untuk mendapatkan kebutuhannya. Saat di rumah ia menjadi pendiam karena baginya rumah bukan tempat untuk berjuang. Rumah adalah tempat untuk beristirahat, mengistirahatkan otaknya. Berbeda dengan kaum perempuan yang merasa rumah adalah tempat yang tepat untuk berbicara terutama dengan suaminya. Lagi-lagi, keadaan yang sangat jauh berbeda. Lalu bagaimana mengatasinya?

Tentu saja harus melihat kondisi dan situasi. Lelaki yang sedang memiliki masalah di kantor akan terus membawa masalahnya itu sampai ke rumah. Ketika suami sedang dalam kondisi letih dan mempunyai masalah, maka perempuan harus memahami hal itu bahwa suami sedang lelah, butuh istirahat, dan ketenangan. Kewajiban perempuan adalah memenuhi hal tersebut. Jika tidak, akibatnya akan buruk. Jika suami telah menemukan pemecahan masalahnya, letihnya telah habis, maka ia akan terlihat gembira. Pikirannya menjadi baik kembali. Mukanya menampakkan senyuman yang lebar. Siap diajak untuk berkomunikasi.

Dalam dunia lelaki, ada dua sebab mengapa ia mau berbicara tentang masalahnya:
1. Ingin berembug dan mencari jalan keluar
2. Ingin membebaskan diri dari tanggung jawab dan kesalah tersebut.

Dalam benak lelaki, saat perempuan mengatakan keluhannya, dua hal tersebutlah yang menjadi alasannya. Jikalah istrinya mengeluh, maka secara otomatis, lelaki yang menganggap dirinya sebagai kepala rumah tangga yang bertanggung jawab penuh kepada istrinya akan memberikan jalan keluarnya. Namun lelaki tidak mengetahui bahwa istrinya membutuhkan perbincangan kasih sayang bukan membutuhkan nasehat-nasehat dan jalan keluar. Baik, jika ternyata lelaki itu mampu mengerti akan kebutuhan bercakap-cakap ini dalam diri istrinya sehingga konflik tidak ada.

Hal lain yang menjadi permasalahan adalah jika lelaki menangkap pesan bahwa keluhan yang disampaikan istrinya adalah salah satu tindakan pembebasan diri si istri dari tanggung jawab. Dengan kata lain, bahwa lelaki merasa bahwa istrinya telah menganggapnya lalai. Ketika inilah lelaki akan mengeluarkan senjatanya untuk membela diri. Di sinilah harus ada trik-trik dalam menyampaikan keluhan permasalahan.

Di lain sisi, kaum perempuan menyukai memberikan pertolongan dan bantuan kepada sesama. Keadaan berbeda pada kaum lelaki. Perbedaan memang selalu ada selayaknya tulang rusuk yang bengkok bagi kaum lelaki, selalu berseberangan sifatnya. Tujuan memberikan bantuan bagi kaum perempuan adalah untuk membuat dia merasa dicintai. Sementara dalam dunia kaum lelaki, memberikan bantuan sukarela dianggap sesuatu yang tak dapat diterima. Kadang ditafsirkan sebagai penghinaan atas sebuah ketidakmampuan.

Karena itulah, seorang istri yang baik akan membiarkan suaminya berkerja dan percaya penuh padanya. Biarkanlah ia, turutilah, dan jangan mencampur aduk. Jangan berusaha memperbaiki kecuali apabila ia tidak bekerja dan berhenti dari pekerjaannya.

Secara umum, bila perempuan ingin memberikan bantuan kepada suaminya atau memberikan nasehat kepadanya. Murni keinginannya dengan tujuan untuk kebaikan si suami, sebagai wujud rasa cinta tanpa diminta suami. Sikap ini akan terasa menyakitkan bagi suami. Bagi suami, tindakan ini sebagai sikap dari rasa ketidakpercayaan istri padanya. Ada baiknya dilakukan dengan sikap yang tidak menggurui atau dengan cara tidak langsung.

Jumat, 14 Oktober 2011

Sadarlah Wahai Uhkti..........

T
Wahai uhkti…., wanita tehormat, makluk mulia yang mempunyai kedudukan yang tinggi di dunia, ini…. Yang mempunyai pengaruh yang begitu besar dalam kehidupan setiap insan manusia muslim. Engkaulah sekolah sekolah bagi para generasi mujahid-mujahid Islam, dan dari dirimulah lahir para generasi kaum muslimin yang kuat. 


Namun ukhti kadang engkau tidak merasa tanggung jawabmu yang begitu besar itu dalam kedepan untuk generasi muslim. Perjuangan yang berat yang harus engkau emban yang melebihi tanggung jawab kaum adam, sampai-sampai Allah telah memerintahkan Hamba-Nya untuk berbakti kepada ibu, dan mempergaulinya dengan baik.


Uhkti  engkau kadang tidak menyadari itu semua, engkau menjadi insan yang lupa akan beban tugasmu,engkau mempertontonkan auratmu kepada kaum Adam…. Engkau mengobral lekuk tubuhmu, engkau mengobral wajah rupawanmu…. Sungguh terlena para lelaki melihatnya ukhti…..paras wajahmu yang cantik membuat kaum adam terlena sehingga benak-benak syahwat syetan yang terkutuk mulai merasuki.

Walau kadang engkau berjilbab ukhti menutup auratmu,,,, namun wajah rupawanmu masih saja engkau mengobralnya…


“wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin. Hendaklah mereka mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka (Q.S. AL_Ahzab : 59)


Rambutmu engkau tutup, keningmupun engkau tutup paha dan betismu itu pun kau tutup, lengkung pingulmu tidak engkau tutup, …. Sama saja ukhti, dan wajahmupun tidak engkau tutupi….. engkau tidak menundukan pandanganmu engkau biarkan tiap pria melihat wajahmu ukhti.


“Katakanlah kepada orang laki- laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” [Q.S. An- Nur: 30]


Uhkti namun untuk mengamalkan ayat Alloh SWT tersebut ukhti sangatlah sulit bagi kaum pria, saat engkau duduk di tengah laki-laki saat engkau memasang photomu di internet,engkau bercanda tawa dengan mereka tanpa mengetahui waktu, uhkti bagaimana kaum Adam bias menjaga pandangan mereka?


Uhkti bukankah sudah jelas sabda Baginda Rasululloh SAW “Tidaklah aku meninggalkan fitnah setelahku yang lebih berbahaya bagi kaum pria melebihi kaum wanita (Muttafaqun Alaih)


Wahai ukhti jagalah pandanganmu cukupkan wajah cantikmu hanya untuk suamimu tercinta. Suami yang telah Alloh halalkan bagimu untuk mu seutuhnya. Yang lebih berhak menikmati kecantikanmu kemolekan tubuhmu. Dan cukupkanlah wajahmu untuk saudari-saudarimu sesama muslimah yang Insya Alloh tidak akan ada fitnah didalamnya, cukup Uhkti…… malulah dengan sikapmu,malulah jika keseksianmu disebut….!!!

Janganlah bangga jika syahwatmu itu dipuji syetan yang terkutuk dan dinikmati para lelaki. Engkau tanpa sadar telah mempertontonkan syahwatmu kepada manusia yang tidak berhak,apakah engkau mahkluk public yang bias ditonton uhkti. 


Berhijablah jagalah dirimu mulai sekarang sebelum terlambat dan fitnaah itu telah berakar. Jagalah setiap detik langkahmu untuk malu mu di depan para lelaki. Karena engkau adalah manusia terhormat uhkti dari rahimulah akan lahir generasi mujahid dan mujahidah penegak kalimah-kalimah Alloh di bumi ini.







Kamis, 13 Oktober 2011

Nama Para Nabi Tertulis dalam Prasasti Ebla, 1500 Tahun Lebih Tua daripada Taurat

Berasal dari masa sekitar 2500 SM, prasasti Ebla memberikan keterangan teramat penting mengenai sejarah agama-agama. Sisi terpenting mengenai prasasti Ebla, yang ditemukan para ahli arkeologi pada tahun 1975 dan yang sejak itu telah menjadi pokok bahasan dari banyak penelitian dan perdebatan, adalah terdapatnya nama tiga orang nabi yang disebutkan dalam kitab-kitab suci.

Penemuan prasasti Ebla setelah ribuan tahun dan informasi yang dikandungnya sungguh sangat penting dari sudut pandang perannya dalam memperjelas letak geografis kaum-kaum yang disebutkan dalam Al Qur'an.

Sekitar 2500 SM, Ebla adalah sebuah kerajaan yang meliputi suatu wilayah yang di dalamnya termasuk ibukota Syria, Damaskus, dan Turki bagian tenggara. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan di bidang kebudayaan dan ekonominya, namun setelah itu, sebagaimana yang menimpa banyak peradaban besar, menghilang dari panggung sejarah. Tampak dari catatan yang terawetkan tersebut bahwa Kerajaan Ebla merupakan pusat utama kebudayaan dan perdagangan di masanya.(1) Penduduk Ebla memiliki sebuah peradaban yang membangun lembaga-lembaga arsip negara, mendirikan perpustakaan-perpustakaan dan mencatat aneka perjanjian perdagangan secara tertulis. Mereka bahkan memiliki bahasa mereka sendiri, yang disebut sebagai Eblaite.

Sejarah Agama-Agama Zaman Dahulu

Peran penting sesungguhnya Kerajaan Ebla, yang dianggap sebagai sebuah keberhasilan besar bagi arkeologi klasik ketika pertama kali ditemukan di tahun 1975, mengemuka dengan ditemukannya sekitar 20.000 prasasti dan penggalan tulisan paku. Naskah ini empat kali lebih banyak daripada seluruh naskah bertulisan paku yang diketahui para arkeolog selama 3.000 tahun terakhir.

Ketika bahasa yang digunakan dalam prasasti-prasasti tersebut diterjemahkan oleh seorang berkebangsaan Italia Giovanni Pettinato, penerjemah naskah-naskah kuno dari Universitas Roma, nilai penting prasasti tersebut semakin dipahami. Alhasil, penemuan Kerajaan  Ebla dan kumpulan naskah negara yang luar biasa tersebut tidak hanya menarik perhatian di bidang arkeologi, tapi juga bagi kalangan agamawan. Hal ini dikarenakan selain nama-nama seperti Mikail (Mi-ka-il) dan Thalut (Sa-u-lum), yang berperang bersama Nabi Dawud, prasasti-prasasti ini juga menuliskan nama-nama nabi yang disebutkan di dalam tiga kitab suci: Nabi Ibrahim (Ab-ra-mu), Nabi Dawud (Da-u-dum) dan Nabi Ismail (Ish-ma-il). (2)

Pentingnya Nama-Nama yang Disebut dalam Prasasti Ebla

Nama para nabi yang ditemukan dalam prasasti Ebla memiliki nilai teramat penting karena ini adalah kali pertama nama-nama tersebut dijumpai dalam naskah bersejarah setua itu. Informasi ini, yang berasal dari zaman 1500 tahun sebelum Taurat, sangatlah mengejutkan. Kemunculan nama Nabi Ibrahim di dalam prasasti tersebut menyatakan secara tertulis bahwa Nabi Ibrahim dan agama yang dibawanya telah ada sebelum Taurat.

Para sejarawan mengkaji prasasti Ebla dari sudut pandang ini, dan penemuan besar tentang Nabi Ibrahim dan misi yang diembannya menjadi bahan penelitian dalam kaitannya dengan sejarah agama-agama. David Noel Freedman, arkeolog dan peneliti Amerika mengenai sejarah agama-agama, melaporkan berdasarkan penelitiannya nama-nama nabi seperti Ibrahim dan Ismail di dalam prasasti tersebut. (3)

Nama-Nama Lain di dalam Prasasti

Sebagaimana disebutkan di atas, nama-nama yang ada di dalam prasasti adalah nabi-nabi yang disebutkan di dalam tiga kitab suci, dan prasasti tersebut jauh lebih tua daripada Taurat. Selain nama-nama ini terdapat pula hal-hal lain dan nama-nama tempat di dalam prasasti tersebut, yang dengannya dapat diketahui bahwa penduduk Ebla adalah para pedagang yang sangat berhasil. Nama Sinai, Gaza dan Yerusalem, yang tidak terlalu jauh letaknya dari Ebla, juga terdapat di dalam tulisan tersebut, yang menunjukkan bahwa penduduk Ebla memiliki hubungan yang sangat baik dengan tempat-tempat tersebut di bidang perdagangan dan kebudayaan. (4)

Satu rincian penting yang diketahui dari prasasti tersebut adalah nama-nama wilayah seperti Sodom dan Gomorrah, tempat berdiamnya kaum Luth. Diketahui bahwa Sodom dan Gomorrah adalah sebuah wilayah di pesisir Laut Mati tempat bermukimnya kaum Luth dan tempat di mana Nabi Luth mendakwahkan risalahnya dan menyeru masyarakat untuk hidup mengikuti nilai-nilai ajaran agama. Selain dua nama ini, kota Iram, yang tercantum di dalam ayat-ayat Al Qur'an, juga di antara yang tersebut di dalam prasasti Ebla.

Sisi paling penting untuk dicermati dari nama-nama ini adalah bahwa selain dari naskah-naskah yang disampaikan oleh para nabi, nama-nama tersebut belum pernah muncul di dalam naskah mana pun sebelumnya. Ini adalah bukti tertulis penting yang menunjukkan bahwa para nabi yang medakwahkan risalah satu agama yang benar di masa itu telah mencapai wilayah-wilayah tersebut. Dalam sebuah tulisan di majalah Reader's Digest, tercatat di masa itu bahwa terdapat pergantian agama dari penduduk Ebla selama masa pemerintahan Raja Ebrum dan bahwa masyarakat mulai menambahkan imbuhan di depan nama-nama mereka dalam rangka meninggikan nama Tuhan Yang Mahakuasa.

Janji Allah Adalah Benar…

Sejarah Ebla dan prasasti Ebla yang ditemukan setelah 4.500 tahun sesungguhnya mengarahkan kepada satu kebenaran yang teramat penting: Allah telah mengirim utusan-utusan kepada penduduk Ebla, sebagaimana yang Dia lakukan ke setiap kaum, dan para utusan ini menyeru kaum mereka kepada agama yang benar.

Sebagian orang memeluk agama yang sampai kepada mereka sehingga mereka berada di jalan yang benar, sedangkan yang lain menentang risalah para nabi dan lebih memilih kehidupan yang nista. Tuhan, Penguasa langit dan bumi, dan segala sesuatu di antara keduanya, mewahyukan kenyataan ini dalam Al Qur'an:

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An Nahl, 16: 36)

Daftar pustaka:
1) "Ebla", Funk & Wagnalls New Encyclopaedia, © 1995 Funk & Wagnalls Corporation, Infopedia 2.0, SoftKey Multimedia Inc.
2) Howard La Fay, "Ebla: Splendour of an Unknown Empire," National Geographic Magazine, December 1978, h. 736; C. Bermant and M. Weitzman, Ebla: A Revelation in Archaeology, Times Books, 1979, Wiedenfeld and Nicolson, Great Britain, h. 184.
3) Bilim ve Teknik magazine (Science and Technology), No. 118, September 1977 and No. 131 October 1978
4) For detailed information, please see Harun Yahya's Miracles of the Qur'an.

sumber : info@harunyahya.com